Kumpulan cerita sex terbaru, cersex bergambar, kisah hot, cerita dewasa, cerita mesum, cerpen ngentot, cerita selingkuh dan cerita seks pemerkosaan.

cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita sex sedarah

Pembantu Seksi Bercinta dengan Majikan | BOKEP TERKINI

NEGARAQQ.COM AGEN DOMINO ONLINE DOMINO ONLINE UANG ASLI AGEN DOMINO99 TERPERCAYA DI INDONESIA | BANDAR Q ONLINE | BANDAR POKER ONLINE | BANDAR SAKONG | AGEN QQ | AGEN DOMINO99 | DOMINO ONLINE UANG ASLI

Pembantu Seksi  Bercinta dengan Majikan

Setelah sebelumnya ada cerita "Bercinta Dengan Tante Hot dan Anaknya ", sekarang ada kisah "Pembantu Seksi  Bercinta dengan Majikan ". Selamat membaca dan menikmati bacaan khusus Cerita Seks berikut ini.


NEGARAQQ.NET - Aku berusia 38 tahun saat ini, sudah beristeri dan mempunyai 3 orang anak. Rumahku terletak di pinggiran kota Jakarta yang bisa disebut sebagai kampung. Orang tuaku tinggal di sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh dari rumahku. Orang tuaku memang bisa dibilang berkecukupan, sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Nah pembantu orang tuaku inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ dalam ceritaku ini.

Bapakku baru dua bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibuku tinggal sendiri hanya ditemani Cindy, pembantunya yang sudah hampir 3 tahun bekerja disana. Cindy berumur 28 tahun, dia masih belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, bahkan giginya agak tonggos sedikit, walaupun tidak bisa disebut jelek juga. Tapi yang menarik dari Cindy ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 165 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 34. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibuku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah agak mekar.

BANDAR POKER ONLINE - Hari itu, karena kurang enak badan, aku pulang dari kantor jam 11.00 WIB, sampai di rumah, kudapati rumahku kosong. Rupanya isteriku pergi, sedang anak-anakku pasti sedang sekolah semua. Akupun mencoba ke rumah ibuku, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumahku. Biasanya kalau tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, entah untuk sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja.

Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Cindy, sedang memasak.
Kutanya Cindy, “Cin, Bu Desi (nama isteriku) kesini nggak?”
“Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Cindy.
“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi.
“Tadi dijemput Bu Ina (Adikku) diajak ke sekolah Yoga (keponakanku)”
“Oooh” sahutku pendek.
“Masak apa, Cin? tanyaku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.
“Ini Pak, sayur sop”
Rupanya dia ngerasa juga kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Pak Irsan ngeliatin apa sih” Tanya Cindy.
Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab
“Ngeliatin pantat kamu. Kok bisa seksi begitu sih, Cin?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Desi juga pantatnya gede”
“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Cindy, sambil matanya melirik kearahku.
Aku yakin, saat itu memang Cindy sedang memancingku untuk kearah yang lebih hot lagi.
Merasa mendapat angin, akupun menjawab lagi, “Iya, kalo Bu Desi kan cuma menang gede, tapi tepos”

“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.
Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat tititku berdiri.
Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Cindy yang masih mengaduk ramuan sop itu di kompor.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kencang” sahut Cindy, tapi tidak menolak saat tanganku meraba pinggulnya.

Mendengar itu, akupun yakin bahwa Cindy memang minta aku ‘apa-apain’. Akupun maju sehingga tititku yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Cindy memakai rok berwarna abu-abu (seperti layaknya rok anak SMU) yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali tititku yang keras itu menempel di belahan pantat Cindy , seperti kuduga, memang padat dan kencang.
“Apaan nih Pak, kok keras? tanya Cindy genit.
“Ini namanya sonny, sodokan nikmat” jawabku.
Saat itu, rupanya sop yang dimasak sudah matang. Cindy pun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan tititku. Aku tidak tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah dadanya. Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan branya.

Saat kuremas, Cindy sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali. Kulihat matanya terpejam menikmati remasanku. Kukecup bibirnya (walaupun agak terganggu oleh giginya yang sedikit tonggos itu), dia membalas kecupanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. Tititku yang tegang kutekan ke pantatnya sehingga menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Cindy). 

Sekitar lima menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesukaran akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya.
Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan, “Ssshh, aahh,
Pak Irsan ...... jangan di dapur dong Pak”
Dan akupun menarik tangan Cindy, kuajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibuku.
Sesampai di kamarnya, Cindy langsung memelukku dengan penuh nafsu, “Pak, Cindy sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”
“Kok nggak bilang dari dulu?” tanyaku sambil membuka kaos dan roknya.
Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan tubuh pembantu ibuku ini.

Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Cindy tidak mau membuang waktu, diapun segera membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana panjangku.

Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Cindy meresap ke kulit tubuhku. Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah gairahku, “Aahh, Bapak”.

Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yang indah itu. Langsung kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Cindy yang berwarna coklat, terasa padat dan kenyal (Beda sekali dengan buah dada isteriku), lalu kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yang langsung mengeras.
Kurebahkan Cindy ditempat tidurnya, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat keindahan kemaluan Cindy yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Cindy. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.
“Pak, jangan diliatin aja dong, Cindy kan malu” Katanya.

Aku sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan kepalaku dan bibirkupun menyentuh vagina Cindy yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Cindy menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di klitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah ini.
“Cindy, memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Irsan suka sama memek Cindy? tanya Cindy.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari vagina Cindy.
“Mulai sekarang, memek Cindy cuma untuk Pak Irsan” Kata Cindy.
“Pak Irsan mau kan?”
“Siapa sih yang nggak mau memek kayak gini, Cin?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke vaginanya kembali.
Cindy terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan lidahku ke lubang anusnya.
“Oooh, sshshh, aahh.. Pak Irsan, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Irsan sayang”

Sepuluh menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit bernafas”Pak Irsan.. aahh, Cindy nggak kuat Pak.. sshh”. Kurasakan kedua paha Cindy menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan vaginanya menjadi semakin basah. Cindy sudah mencapai orgasme yang pertama. Cindy masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara air maninya meleleh keluar dari vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Cindy sampai kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku senang sekali melihat dia mencapai kepuasan.

Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yang masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Ooouugh, nikmatnya, ternyata Cindy sangat memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat giginya yang agak tonggos itu mengenai batang kemaluanku. Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Cindy terus mengulum kemaluanku, yang semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus menimbulkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluanku.
“Pak Irsan Cindy masukin sekarang ya Pak?” pinta Cindy.
Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku. Digenggamnya batang kemaluanku, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluanku sudah tertanam di vaginanya. Cindy memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kemaluanku.

Aku merasakan jepitan yang sangat erat dalam kemaluan Cindy. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Cindy. Ketika kutekan agak keras, Cindy sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata, “Pelan dong Pak, sakit nih, tapi enak banget”. Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluanku lenyap ditelan ke dalam vaginanya.

Kami terdiam dulu, Cindy menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ vaginanya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Cindy menyedot kemaluanku!

Belum sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, dia pun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Cindy. Waw.. kurasakan kepalaku hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam vaginanya. Cindy merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Payudaranya yang besar menekan dadaku, dan.. astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku hampir tidak bertahan.

Aku tidak mau orgasme dulu, aku ingin menikmati dulu vagina Cindy yang ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, kudorong tubuh Cindy ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia.

Lalu kusuruh Cindy tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke vaginanya yang sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Cindy.

 Kumainkan pantatku turun naik, sehingga tititku keluar masuk di lorong sempit Cindy yang sangat indah itu. Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari vaginanya. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala tititku.
“Cindy, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku pada Cindy.
“Iya Pak, Cindy juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. bareng ya Pak Irsan.., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Cindy.

Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Cindy yang luar biasa itu, Cindy mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuhku mengejang.
“Cindy, hh.. hh, aku keluar sayaang”
Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan, Cindy pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku.
“Pak Irwaan, Cindy juga keluar paakk, sshh, aahh”.

Aku terkulai di atas tubuh Cindy. Cindy masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.

“Cindy, terima kasih yaa, memek kamu enak sekali” Kataku.
“Pak Irsan suka memek Cindy”
“Suka banget, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya.
Kembali kami berpagutan.
“Dibandingin sama Bu Desi, enakan mana Pak?” pancing Cindy.
“Jauh lebih enak kamu sayang”
Cindy tersenyum.
“Jadi, Pak Irsan mau lagi dong sama Cindy lain kali. Cindy sayang sama Pak Irsan”
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluknya. Pembantu ibuku yang sekarang jadi Sephiaku.


close
 photo baneergarisnegaraqq1_zpsuusvdv2c.gif